Bulan lalu saya melewati 39 tahun usia menghirup udara di dunia. Banyak kesenangan, kesedihan yang dirasakan di sepanjang usia ini. Banyak perkara, kesulitan, juga kejatuhan di sepanjang hari-hari yang sudah terlewati. Meskipun ada juga tawa senang, tapi tangis yang tertelan kembali di kerongkongan rasanya lebih kerap mengisi hari-hari panjang yang semakin sunyi.
Malam ini, masih seperti seribu malam yang lalu, saya masih tergolek sendiri dengan hati yang kering. Saya merasa telah gagal memaknai hidup saya sendiri, Saya merasa lelah, letih, capek melewati ribuan hari tanpa arti. saya merasa semakin tak bisa meraih kebahagiaan bahkan yang sederhana sekalipun. Saya merasa tak punya arti apa-apa, merasa tak lebih dari seonggok daging yang kebetulan bisa bernafas.
Saya merasa tak ada sedikitpun pencapaian berarti yang mampu saya raih. Lihatlah saya, saya bukan siapa-siapa, di sini saya bukan siapa-siapa. Di sini saya hanyalah sub ordinasi. Saya tak memiliki apa-apa dan tak dimiliki siapa-siapa. Saya kosong dan hampa.
Saya ingin sekali dapat menata hidup saya kembali. Saya rindu satu fase hidup saya yang sangat singkat belasan tahun lalu, satu fase yang sangat singkat, hanya satu dua bulan tapi begitu membekas di hati saya. Satu masa dimana saya tinggal sendiri, di rumah saya sendiri meskipun rumah yang sangat sederhana. Tidur di kamar saya sendiri yang meski tidak mewah tapi cukup teratur, tidur di ranjang saya sendiri yang bersih dan rapi saat saya cukup rajin merapikannya. Rindu saat dimana saya pulang dari bekerja memasuki rumah melepas penat, menyeduh teh hangat kesukaan lalu duduk di sofa menghadap pintu yang terbuka menunggu sore jatuh digantikan senja, lalu saya beranjak mandi dan merebahkan diri menunggu mimpi tentang seseorang idaman saya yang menemani tidur malam.
Tapi saya sadar itu semua semakin mustahil dapat saya nikmati lagi….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar